-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Revitalisasi Bahasa Gayo Hindari Kepunahan

Kamis, 16 Maret 2023 | 00.40 WIB | Last Updated 2023-03-16T07:40:32Z
Banda Aceh – Revitalisasi Bahasa Gayo berlanjut sejak telah dimulai pada Februasi 2023 atas kunjungan langsung Balai Bahasa Provinsi Aceh ke Bener Meriah salah satu zona pengguna Bahasa Gayo di Provinsi Aceh, saat ini tahap Rakor dan Diskusi Kelompok Terpumpun mulai dilaksanakan, Kamis (16/3/2023).

Berlangsung di Hermes Palace Hotel, dibuka secara simbolik formal di hadapan para peserta sejumlah 65 orang dari tiga Kabupaten; Aceh Tengah, Bener Meriah juga Gayo Lues, 

Rakor dan diskusi dibuka secara resmi oleh Pj. Gubernur Aceh, Achmad Marzuki diwakili oleh Almuniza Kamal, S.STP, M.Si. selaku Kadisbudpar Aceh.
“Fakta punahnya bebarapa bahasa daerah sudah sangat mengkhawatirkan, sebagai anak bangsa segera melakukan upaya konservasi dalam upaya melindungi dan mengelola bahasa sebagai kekayaan budaya Indonesia, konservasi sebagai wujud perlindungan kepada bahasa daerah sudah semestinya kita laksanakan,” papar Pj Gubernur Aceh.

Tahapan revitalisasi bahasa Gayo ini diharapkan akan menghasilkan berbagai kesimpulan dan keputusan, yang akan melancarkan pelaksanaan revitalisasi bahasa Gayo.

Para tamu undangan yang hadir dari unsur stockholder antaranya; Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh Drs. Umar Solikhan, M. Hum, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Anwar, S. Pd, M. Ap, Kepala Dinas Kabupaten Aceh Tengah Drs. Uswatuddin, M. Ap,

Kepala Dinas Kabupaten Bener Meriah Ruh Akbar, M. Pd, Para Kepala MPD, Majelis Adat Gayo dan Staf Ahli Bupati/Kabid dari tiga kabupaten; Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Mewakili UPT Kemendikbud Ristek di Aceh antaranya; Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Budaya, Balai Penjamin Mutu Pendidikan, Balai Guru Penggerak.

Hadir juga Ketua Majelis Pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.

”Revitalisasi Bahasa Daerah (RDB) merupakan upaya Perlindungan Dan Pelestarian Bahasa Dan Sastra Daerah yang didasarkan amanat UUD 1945 Pasal 32 ayat 2 yang menyatakan bahwa negara menghormati dan memelihara Bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. 

Selain itu, upaya tersebut juga didasarkan pada UU No. 24 Tahun 2009 pasal 42 dan PP No. 57 tahun 2014” papar Umar Solikhan dalam sambutannya selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh.

Sasaran kegiatan RBD adalah generasi/penutur muda. Tujuan akhir dari pelaksanaan revitalisasi Bahasa daerah adalah agar penurut muda; 1) menjadi penurut aktif bahasa daerah dan mempelajari bahasa daerah dengan menyenangkan, 2) menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah dengan penuh rasa sukacita, 3) menemukan fungsi dan ranah baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah.

Pelaksanaan RBD sampai 2022 terhadap 12 provinsi dengan tahapan kegiatan; rapat koordinasi, diskusi kelompok terpumpun, pelatihan guru utama/guru master, diseminasi/pengimbasan dari guru master kepada guru sejawat di sekolah, pelaksanaan RBD di sekolah dengan FTBI tingkat sekolah, FTBI tingkat kecamatan dan kabupaten, FTBI tingkat provinsi dan FTBI tingkat nasional.

Pemilihan merevitalisasi bahasa Gayo merupakan keputusan atas dasar kajian vitalitas yang telah dilakukan pada 2019 lalu, bahasa Gayo berada pada posisi rentan, untuk itu dengan seluruh pemangku kebijakan dan kepentingan di wilayah Provinsi Aceh diperlukan usaha nyata bersama guna mendongkrak kembali posisi vitalitas salah satu bahasa daerah di Provinsi Aceh tersebut agar kembali berstatus aman.

Sementara itu, sejak 2022 program prioritas perlindungan bahasa daerah mulai dilaksanakan, berupa Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai program prioritas Kemendikbud dengan peluncuran Merdeka Belajar episode ke-17.


Bertujuan untuk menggelorakan kembali Bahasa daerah, meningkatkan minat generasi (penutur) muda untuk kembali menggunakan Bahasa daerah.

Bahasa daerah menjadi muatan lokal, dipelajari dengan cara-cara menyenangkan, bisa menemukan ranah baru, dalam program revitaliasasi Bahasa Gayo dilakukan melalui lomba dongeng, pidato, baca puisi, menulis dan komedi.

Perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Mukhsin dalam sambutannya menyatakan optimis dan semangat yang tumbuh berbekal kolaborasi seluruh lintas sektor guna mengupayakan revitalisasi bahasa daerah Gayo dapat berjalan sebagaimana yang diagendakan secara nasional.

“Indonesia memiliki 11 bahasa daerah yang punah di Indonesia, 50-an Bahasa daerah yang terancam punah, antaranya bahasa Gayo, kita berusaha meningkatkan vitalitas Bahasa Gayo untuk kembali menjadi status Bahasa daerah yang aman, melalui revitalisasi Bahasa Gayo,” ungkap Hafidz.

Menyamakan persepsi para pengambil kebijakan agar optimaliasi revitaliasi Bahasa gayo merupakan terobosan penting yang sangat diperlukan agar semua berjalan sebaik mungkin.

“Kolaborasi menjadi prasyarat Program Merdeka Belajar, kehadiran para pemimpin di daerah menjadi muatan utama suksesnya program,” ujarnya.

39 bahasa daerah telah direvitalisasi di Indonesia, 2023 sasaran menjadi 61 bahasa daerah yang kembali direvitalisasi sebagai amanah regulasi untuk dilaksanakan.

Alokasi dana secara khusus untuk program revitalisasi Bahasa gayo kepada Balai Bahasa Provinsi Aceh, rapat koordinasi di tingkat pusat, RAPBD diharapkan sub bidang Bahasa dalam rangka revitalisasi Bahasa daerah, sehingga daerah menjadi mitra, sebagai komitmen bersama.

“Kami berharap dan berdoa agar tujuan akhir revitaliasi Bahasa daerah untuk mewujudkan para penutur muda kita dapat kembali mencintai, aktif menggunakan Bahasa daerah, sebagai kekayaan budaya yang harus dilestarikan bersama,” tutup Hafidz.
close